Jumat, 15 November 2013

mmakalah KONSEP DAN MODEL-MODEL RISET PENELITIAN KUALITATIF



KONSEP DAN MODEL-MODEL RISET PENELITIAN KUALITATIF
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metode Penelitian Kualitatif
Disusun Oleh :
Ahmad Anif Wahbullah
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
KATA PENGANTAR

Alhamduillahi robbil “alamin rasa syukur selalu kepada Allah SWT karena rahmat dan nikmatnya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing dan temam-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Sholawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, panutan berdzikir, berfikir dan beramal shaleh, panutan kita bergerak sepanjang massa.
Pada makalah ini penulis ingin membahas tentang konsep dan model-model riset penelitian kualitatif, Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun, dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amiiiin....








DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ………………………………………………………………………………         2
Daftar Isi  ……………………………………………………………………………………. 3
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang  ……………………………………………………………………… 4
B.     Rumusan Masalah …………………………………………………………………… 4
C.     Tujuan  ………………………………………………………………………………. 4
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep penelitian kualitatif  ………………………………………………………… 5
B.     Model-model  riset penelitian kualitatif ……………………………………………... 7
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan …………………………………………………………………………. 12
B.     Saran ………………………………………………………………………………... 12
BAB IV
A.    Daftar Pustaka ……………………………………………………………………… 13






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam suatu penelitian diperlukan metode penelitian, salah satu metode penelitian adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif berlandaskan pada filsafat positivisme, metode ini juga biasa disebut metode artistic karena proses ini lebih bersifat seni.
Sebelum melakukan penelitian dengan metode penelitian kualitatif, diperlukan pemahaman terlebih dahulu tentang konsep penelitian kualitatif dan model-model riset penelitian kualitatif.

B.     Rumusan Masalah
@ Bagaimana Konsep Penelitian Kualitatif?
@ Bagaimana Model-model Riset Penelitian Kualitatif?

C.     Tujuan
@ Menjelaskan Konsep Penelitian Kualitatif.
@ Menjelaskan Model-model Riset Penelitian Kualitatif.










BAB II
PEMBAHASAN
1.      Konsep Penelitian Kualitatif
Penelitian atau dalam bahasa Inggris disebut dengan research. Jika dilihat dari susunan katanya, terdiri atas dua suku kata, yaitu re yang berarti melakukan kembali atau pengulangan dan search yang berarti melihat, mengamati atau mencari, sehingga research dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan pemahaman baru yang lebih kompleks, lebih mendetail, dan lebih komprehensif dari suatu hal yang diteliti. Banyak metode penelitian salah satunya adalah metode penelitian kualitatif.
Berbicara mengenai metode berarti berbicara mengenai tatacara, aturan, dan hukum, dalam melaksanakan atau menyelenggarakan sesuatu, tentunya di dalamnya terkandung hal-hal yang diatur secara sistematis, hal-hal yang diwajibkan, dianjurkan, dan atau dilarang. Hal ini juga berlaku pada metode penelitian kualitatif yang juga memiliki aturan.
Metode kualitatif sering di sebutmetode penelitian naturalistic, yang berarti alami karena penelitian dilakukan pada kondisi alamiyah (obyeknya). Obyek yang alamiyah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran penelititidak mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut.[1]
Adapun pengertian penelitian kuliatatif dapat dilihat dari beberapa teori berikut ini:
a.       Meleong, mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.[2]
b.      Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh social yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitaif.[3] 
Dari beberapa teori-teori di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.
Dalam penelitian kualitaif belum terdapat format baku tahapan-tahapan atau sistematika yang dapat dijadikan patokan dalam penelitian. Ini dikarenakan penelitian kualitaif terkait dengan salah-satu karakteristik dari penelitian kualitais itu sendiri, yaitu fleksibel. Sehingga dengan ke-fleksibelan-nya jalan penelitian berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi, meskipun demikian para ahli sependapat bahwa setidaknya terdapat lima tahapan sebagai patokan dalam penelitian, yaitu tergambar sebagai berikut:
1.      Mengangkat permasalahan.
Permasalahan yang biasanya diangkat dalam penelitian ini adalah bersifat unik, khas, memiliki daya tarik tertentu, spesifik, dan terkadang sangat bersifat invidual (karena beberapa penelitian kualitaif yang dilaksanakan memang hukan untuk kepentingan generalisasi).
2.      Memunculkan pertanyaan penelitian.
Pertanyaan merupakan cirri khas dari penelitian kualitatif. Adalah sebagai spirit yang fungsinya sama penting seperti hipotesis dalam penelitian kuantitaif.
3.      Mengumpulkan data yang relevan.
Data dalam penelitian kualitaif pada umumnya berupa kumpulan kata, kalimat, pernyataan, atau uraian yang mendalam.
4.      Melakukan analisis data
Analisis data merupakan langkah berikutnya setelah data relevan diperoleh.
5.      Menjawab pertayaan penelitian
Tahap ini adalah tahapan terakhir dalam penelitian kualitaif. Dalam menjawab pertanyaan, peneliti dapat mengunakan gaya menulis yan lebih bebas, seperti narasi atau storytelling. Sehingga dalam menjawab pertanyaan penelitian dapat lebih menarik untuk dibaca.
Kemudian, selain dari kelima tahapan di atas, beberapa para ahli penelitian kualitatif mengemukakan beberapa format penulisan penelitian kualitatif berdasarkan sudut pandang masing-masing.
Mengingat terdapat banyaknya format yang dikemukakan para ahli, maka di sini akan memaparkan salah-satunya saja, yaitu format yang dikemukakan oleh Bungin berikut ini:
Pendahuluan
1.      Judul penelitian
2.      Latar belakang masalah
3.      Masalah penelitian
4.      Tujuan penelitian
5.      Tinjauan pustaka/teori dan kesimpulan teoritis yang digunakan
6.      Hipotesis (bila diperlukan)
Metode Penelitian
1.      Populasi (sasaran) penelitian
2.      Sampel dan teknik sampling
3.      Metode pengumpulan data
4.      Metode analisis data
Analisis Data
1.      Rancangan analisis data
2.      Rencangan pembahasan (diskusi) hasil penelitian
Laporan Penelitian
Rancangan dalam laporan penelitian kualitatif secara khusus belum ada format yang baku dan berlaku dalam merancang penelitian kualitatif, namun tetap ada poin-poin yang sama atau hampir sama dengan beberapa format yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Di beberapa perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri, format penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian kualitaif yang digunakan dalam penyusunan skripsi relative sedikit berbeda, walaupun pada intinya tetap sama dan ada benang merahnya satu sama lain.
2.      Model-model Riset Kualitatif
a.      Studi kasus
Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh diskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah entitas. Studi kasus menghasilkan data untuk selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori. Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsip.
Stake mengidentifikasikan adanya 3 (tiga) tipe studi kasus. Yang pertama disebut studi kasus intrinsik, yaitu studi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari kasus yang khusus, hal ini disebabkan karena seluruh kekhususan dan keluarbiasaan kasus itu sendiri menarik perhatian. Tujuan studi kasus intrinsik bukan untuk memahami suatu konstruksi abstrak atau konstruksi fenomena umum seperti kemampuan membaca (literacy), penggunaan obat-obatan oleh remaja atau apa yang harus dilakukan oleh kepala sekolah. Tujuannya bukan untuk membangun teori, meskipun pada waktu lain peneliti mungkin mengerjakan hal tersebut. Studi dilakukan karena ada minat intrinsik di dalamnya, sebagai contoh anak luar biasa, konferensi, klinik, atau kurikulum.
Studi kasus yang kedua disebut studi kasus instrumental (instrumental case study), adalah kasus khusus yang diuji untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang suatu masalah (issue) atau untuk memperbaiki teori yang telah ada. Walaupun studi kasus ini kurang diminati, ia memainkan peran yang mendukung, memasilitasi pemahaman terhadap sesuatu yang lain (minat eksternal). Kasusnya dilihat secara mendalam, dan konteksnya diteliti secara cermat, aktivitas-aktivitas untuk mendalami kasus tersebut dilakukan secara rinci, karena kasus ini membantu pemahaman tentang ketertarikan dari luar (minat eksternal). Dasar pemilihan mendalami kasus ini dikarenakan kasus ini diharapkan dapat memperluas pemahaman peneliti tentang minat lainnya. Hal ini disebabkan karena para peneliti bersama-sama mempunyai beberapa minat yang selalu berubah-ubah yang tidak membedakan studi kasus intrinsik dari studi kasus instrumental dan bertujuan memadukan keterpisahan di antara keduanya.
Studi kasus ketiga adalah studi kasus kolektif (collective case study), yaitu penelitian terhadap gabungan kasus-kasus dengan maksud meneliti fenomena, populasi, atau kondisi umum. Ini bukan merupakan kumpulan studi instrumental yang diperluas pada beberapa kasus. Studi kasus kolektif memerlukan kasus-kasus individual dalam kumpulan kasus-kasus diketahui lebih dahulu untuk mendapatkan karakteristik umum. Kasus-kasus individual dalam kumpulan kasus-kasus tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama atau berbeda, masing-masing mempunyai kelebihan dan bervariasi. Kasus-kasus tersebut dipilih karena dipercaya bila memahami kasus-kasus tersebut akan menghasilkan pemahaman yang lebih baik, penyusunan teori yang lebih baik tentang kumpulan kasus-kasus yang lebih luas.
b.      Fenomenologi
Kajian fenomenologi mendeskripsikan makna bagi beberapa individu terhadap pengalaman hidup mereka sebagai sebuah konsep atau sebuah fenomena (Cresswell, 2007:57). Ahli fenomenologi mendeskripsikan apa yang dimiliki secara umum oleh semua partisipan karena mereka mengalami sebuah fenomena (contohnya: duka cita dialami secara universal). Tujuan utama fenomenologi adalah mereduksi pengalaman individu dengan sebuah fenomena terhadap deskripsi esensi universal.
Stewart dan Mickunas dalam Cresswell menekankan empat perspektif fenomenologi secara filosofis (2007:58):
1.      Kembali pada tugas tradisional filosofi. Pada akhir abad 19, filosofi telah dibatasi untuk mengeksplorasi dunia oleh sarana empiris, yakni yang disebut sebagai ‘scientism’. Filosofi dikembalikan pada konsep Yunani sebagai pencarian untuk kebijaksanaan atau kearifan.
2.      Filosofi tanpa praanggapan. Pendekatan fenomenologi menangguhkan semua pendapat tentang apa yang nyata (sikap alami/natural attitude)sampai mereka ditemukan pada basis tentu yang lebih banyak. Oleh Edmund Husserl penangguhan ini disebut sebagai ‘epoche’.
3.      Intensionalitas terhadap kesadaran. Pendapat ini menyatakan bahwa kesadaran selalu diarahkan terhadap objek. Realitas tentang sebuah objek,selanjutnya, dihubungkan dan tidak dapat dilepaskan dari kesadaran seseorang.
4.      Penolakan terhadap dikotomi subjek-objek. Realitas sebuah objek hanya ditangkap dalam makna atas pengalaman individual.          
Ada dua pendekatan fenomenologi yaitu fenomenologi hermeneutik dan fenomenologi empiris, transendental atau psikologi. Fenomenologi hermeneutik menurut Manen dalam Creswell adalah penelitian yang berorientasi terhadap pengalaman hidup (fenomenologi) dan menginterpretasikan ‘teks’ kehidupan. Dalam hal ini, peneliti memediasi antara makna yang berbeda terhadap makna pengalaman hidup.
Sementara fenomenologi transcendental atau psikologi sedikit difokuskan pada interpretasi peneliti dan lebih pada deskripsi pengalaman partisipan. Konsep yang muncul dalam penelitian fenomenologi psikologi ini adalah epoche atau bracket (pengurungan) milik Edmund Husserl. Konsep tersebut menyatakan bahwa investigator mengesampingkan pengalaman mereka, sebanyak mungkin, guna memperoleh perspektif yang segar terhadap fenomena yang diteliti.[4]
c.       Etnografis
Desain etnografis adalah prosedur penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan, menganalisa, dan menginterpretasi budaya bersama kelompok tertentu, yang mempunyai pola tindakan, kepercayaan, dan bahasa bersama yang berkembang dari waktu ke waktu.
Ada beberapa tipe Etnografi. Etnografi Realis adalah pendekatan trandisional yang digunakan oleh antropologi budaya. Dikarakterisasikan oleh Van Maanen (1988) etnografi realis merefleksikan cara yang diambil oleh peneliti terhadap individu yang dikaji. Etnografi realis merupakan laporan objektif situasi, yang ditulis dalam sudut pandang orang ketiga dan melaporkan secara objektif informasi yang dipelajari dari partisipan pada sebuah situs.
Studi kasus bisa jadi individu tunggal, beberapa individu yang terpisah atau dalam sebuah kelompok, sebuah program, peristiwa, atau aktivitas (misalnya seorang guru, beberapa orang guru, atau implementasi terhadap program matematika baru). Kasus bisa jadi merepresentasikan sebuah proses yang meliputi serangkaian langkah-langkah (misalnya proses kurikulum sebuah sekolah) yang membentuk rangkaian aktivitas. Peneliti mencari untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam pada suatu kasus dengan mengumpulkan bentuk-bentuk data majemuk (misalnya gambar, rekaman video, dan surat elektronk). Penyediaan pemahaman mendalam ini menuntut hanya sedikit kasus yang dikaji, karena masing-masing kasus diperiksa, peneliti mempunyai sedikit waktu untuk mengeksplorasi kedalaman masing-masing kasus.
Enografi Kritis adalah tipe penelitian etnografis dimana peneliti menyokong keterlibatan diri terhadap kelompok yang dimarjinalkan dalam masyarakat. Peneliti kritis secara politis memikirkan individu yang diteliti, melalui penelitiannya menyuarakan ketidaksetaraan dan dominasi. Misalnya peneliti Enografi Kritis mengkaji sekolah yang menyediakan hak istimewa pada tipe siswa tertentu atau praktik-praktik bimbingan yang melayani kebutuhan kelompok yang tidak terwakili. Komponen utama dari etnografi kritis meliputi orientasi value-laden, pemberdayaan masyarakat dengan memberi mereka otoritas yang lebih, menentang status quo dan menyuarakan keprihatinan terhadap kekuasaan dan kontrol. Peneliti etnografi akan mengkaji isu kekuasaan, pemberdayaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, dominasi, represi, hegemoni, dan orang atau kelompok Dari beberapa teori-teori di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.
d.      Analisis wacana
Analisis wacana dalam adalah studi tentang struktur pesan pada dalam komunikasi. Lebih tepatnya lagi, telaah mengenai aneka fungsi (prakmatik) bahasa. Kajian tentang pembahasaan realitas dalam sebuah pesan tidak hanya apa yang tampak dalam teks atau tuklisan, situasi dan kondisi (konteks) seperti apa bahasa tersebut diujarkan akan membedakan makna subyektif atau makna dalam perspektif mereka.
anilsa wacana yang sesungguhnya berusaha memahami bagaimana realitas dibingkai, direproduksi dan didistribusikan ke khalayak. Analisis ini bekerja menggali praktek-praktek bahasa di balik teks untuk menemukan posisi ideologis dari narasi dan menghubungkannya dengan struktur yang lebih luas. Dengan demikian analisis wacana merupakan salah satu model analisa kritis yang memperkaya pandangan khalayak bahwa ada keterkaitan antara produk media, ekonomi dan politik. Keterkaitan ini dapat dimunculkan pada saat analisis wacana bergerak menuju pertanyaan bagaimana bahasa bekerja dalam sebuah konteks dan mengapa bahasa digunakan dalam sebuah konteks dan bukan untuk konteks yang lain.[5]






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.
Ada beberapa Model-model Riset Kualitatif yang lazim di gunakan peneliti yaitu Studi kasus, Fenomenologi, Etnografis, Analisis wacana
B.     Saran
Penulis menyarankan untuk tidak menggunakan makalah ini sebagai acuan yang mutlak karena makalah ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis menyarankan kepada semua pembaca makalah ini untuk mencari sumber-sumber lain untuk menyempurnakan makalah ini.




BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono, 2007. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R & D, alphabeta, bandung.
Herdiansyah, . 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Salemba Humanika, Jakarta.
Saryono, 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Nuha Medika.Yogyakarta.
Creswell, John. W. 2012. Educational Research. Boston: Pearson. (http://www.pearsonhighered.com), diakses 10 Oktober 2013.


[1] Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R & D, alphabeta, bandung. Hal 8
[2] Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Salemba Humanika, Jakarta. Hal 9
[3] Saryono. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Nuha Medika.Yogyakarta. Hal 1

[4] file:///H:/Berbagai%20Tipe%20Penelitian%20Kualitatif%20%20Masihkah%20Diperlukan.html
[5] http://www.pearsonhighered.com (Creswell, John. W. 2012)

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

- See more at: http://blog-triks.blogspot.com/2011/05/pasang-emoticon-di-kotak-komentar-versi.html#sthash.VCvcG6HH.dpuf